Home Pendidikan Beratap Tenda dan Dinding Terpal Biru, Pelajar SD di Kecamatan Kur – Kota Tual “Tada” Jaringan di Pantai

Beratap Tenda dan Dinding Terpal Biru, Pelajar SD di Kecamatan Kur – Kota Tual “Tada” Jaringan di Pantai

Views : 207
WhatsApp Image 2021-11-25 at 06.02.25 (1)

Syahrir Rumagorong : “Maf, Tuan! Kami Hanya Bisa Mengadu”

Tual – Jika disejajarkan dengan mereka yang di Kota, kami rasa-rasanya tidak PD Percaya Diri). Jujur saja, karena kami dilahirkan sebagai anak-anak kampung yang untuk mengenal dunia luar di era digital ini saja kami merayap seperti kumang.

Untuk bisa mangakses makhluk bernama jaringan (4G) dan (3G) harus berpayah-payah naik turun gunung, memanjat tebing dengan mempertaruhkan nyawa. Jika terjatuh, berarti sudah nasiban memang begitu, jika selamat maka itu semata-mata rahmat dari Allah Swt yang patut disyukuri.

Tetapi, itulah keadaan kami yang terjadi saat ini. Masyarakat kami memang orang-orang pekerja keras, mereka mengandalkan otot lebih besar dari pada otak, maka jangan heran mereka tetap nampak ceria di sela-sela usaha mengejar jaringan demi bisa berkomunikasi dengan sanak saudara di rantau,

Setelah itu mereka mengeluh capek, letih, hosa dan kehabisan nafas. Dan, itu sangat manusiawi. Sekuat apapun otot yang ditonjolkan, jika sudah kehabisan tenaga maka akan jadi kendur dan lelah.

Sekarang, masalahnya bukan sekedar letih, lesuh, lelah dan hosa itu. Tetapi, kapan kami bisa menikmati alam kemerdekaan itu dengan baik, disaat anak-anak kami harus dipaksa juga untuk turut mengejar jaringan demi bisa mengikuti ujian dan asesmen online?

Bahkan untuk usaha itu, mereka harus bertahan di tempat jaringan dari pagi hingga malam, bahkan sebagian baru kembali setelah pukul 22.00 dan 23.00, Ironis kah ini??

Mereka bilang sudah terbiasa itu, tetapi bagaimana orang luar mencoba membayangkan bahwa nasib kami orang kampung itu adalah mereka???

Tersenyum bahagiakah mereka? atau sambil siulankah mereka lalu menikmati keadaan ini dengan sepenuh jiwa dan raganya???

Saya tidak yakin itu. Karena Saya pun pernah hidup lama di Kota, yang untuk matinya jaringan PLN beberapa menit saja terdengar suara koor mengeluh dan mencaci maki petugas PLN sedemikian rupa,

Jangan tanya, nasib Telkomsel jika hal serupa terjadi pula. Normalkah itu? Kami orang kampung tidak punya referensi untuk menjawabnya, biarlah kalian orang Kota yang menjawab itu.

Yang kami lakukan hanyalah sekedar yan bisa kami lakukan. Berjalan di tempat semula mendulang jaringan sambil meringis menahan lelah.

Sesekali kami tersenyum namun nampak pahit dan getir, tetapi kemana lagi kami mengadu? Apakah ke Bapak Presdien yang terhormat atau Bapak Menteri yang membawahi masalah komunikasi dan teknlogi???

Sedangkan petinggi di daerah sudah terang-terangan berkata,” Membangun Telkomsel di pulau kami tidak semudah membalikkan telapak tangan?”

Mungkin, karena biayanya yang besar, atau karena birokrasi pengurusannya yang terbelit-belit. Tapi lucu juga yah, di era terang benderang seperti sekarang ini masih layak hidupkah makhluk bernama “terbelit-belit” itu???? Tapi itulah fakta hari ini yang bisa disaksikan dari empat dimensi alam dengan meminjam teori Stephen Hawking sekalipun, akan terbukti itu.

Kami tidak menudutut anda-anda, tidak! Siapa kami, dan apa peran kami untuk bangsa dan negara sehingga harus menuntut tuan-tuan yang budiman??? Tuan-tuan yang jadi pejabat besar dan penentu kebijakan negeri?? Kami malu untuk berhadapan dengan tuan-tuan, karena kaki kami tidak bersendal dan baju kami compang camping penuh debu.

Kami hanya bisa menceritakan kisah lugu sekaligus penuh derita ini agar jadi pelipur lara, mudah-mudahan bisa menjadi penawar letih, lelah dan hosa akibat kerja keras mengejar 3G dan 4G yang di kota sdauh menyatu dengan nafas tuan-tuan dan nyonya-nyoya!!!!!!!

Semoga ada kesadaran yang tumbuh dari daging di dada dan kepala orang-orang kampung, agar ke depan mereka bisa memikirkan nasib sendiri.

Bukankah kita juga dapat dana milyaran rupiah tiap tahun di desa dari negara? Bisa ada gerekan pembangunan yang diawali dari desa ke kota dengan dana sebesar itu.

Semoga Kades-Kadus di kampung sana bisa berpikir maju, dan sama-sama melobi jaringan 4G Telkomsel, untuk kemaslahatan rakyat di kampung. Agar makna kemerdekaan sebagai hak segala bangsa, agama, suku, indivdu itu bisa terwujud sempurna.

mataradar news

error: Content is protected !!