Home Nasional Surat Terbuka Untuk Kembalikan Lembaga-Lembaga Riset Yang Terintegrasi ke BRIN

Surat Terbuka Untuk Kembalikan Lembaga-Lembaga Riset Yang Terintegrasi ke BRIN

Views : 341
23003-presiden-joko-widodo-atau-jokowi

Narasi Institute bersama Aliansi Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa meminta kepada Presiden Joko Widodo Untuk Kembalikan Lembaga-Lembaga Riset Yang Terintegrasi ke BRIN

Jakarta – Narasi Institute bersama Aliansi Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa, melayangkan surat terbuka kepada Presiden, Joko Widodo, Sabtu, (8/1) kemarin, hal itu dibenarkan CO Founder Narasi Institute, Achamd Nur Hidayah ketika dihubungi media ini, Minggu, (9/1) malam.

“Kami memberikan apresiasi upaya Bapak Presiden untuk memperbaiki Ekosistem Riset di Indonesia sebagai tindak lanjut dari UU Sisnas Iptek”, Sambut Narasi Institute dan Aliansi Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa.

Mereka mengatakan bahwa, sebagai tindak lanjut dari Perpres yang belum Presiden tanda tangani yaitu Perpres No.78 Tahun 2021 terbentuklah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) yang kemudian BRIN meleburkan beberapa lembaga.

Mulai dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), termasuk yang sedang hangat dibincangkan publik yaitu Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman.

Menurut Narasi Institute dan Aliansi Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa bahwa, Peleburan lembaga-lembaga riset tersebut ternyata menimbulkan persoalan organisasi yang menghambat masa depan penelitian Indonesia.

“Urusan peleburan lembaga tersebut ternyata terbentur dengan aturan birokratisasi peneliti yang berujung pada tidak terekrutnya para peneliti terbaik di lembaga tersebut, padahal mereka adalah peneliti teruji yang berpendidikan S3, S2 dan S1”, Kesal Narasi Institute dan Aliansi Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa.

Namun, Lanjutnya bahwa, mereka para peneliti terbaik tersebut bukan peneliti berstatus pegawai negeri sipil (PNS), melainkan pegawai/peneliti atas dasar kontrak jangka waktu tertentu,

Sebagaimana mereka yang selama ini mendukung Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Kapal Riset Baruna Jaya maka mereka diputuskan hubungan kerjanya. diantara mereka bahkan ada yang telah mendapatkan penghargaan oleh negara.

“Peleburan lembaga seperti Eijkman tersebut akan diikuti oleh 38 lembaga lainnya yang mengakibatkan hilangnya peneliti yang diprediksi sekitar 1.500-1.600 peneliti non PNS.

Padahal mereka sedang diharapkan akan mendapatkan penghargaan riset dunia dari lembaga risetnya.”, Ujar Narasi Institute dan Aliansi Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa.

Aliansi Anak Bangsa Peduli Riset dan Kemajuan Bangsa tegaskan bahwa merasa prihatin terhadap langkah peleburan lembaga – lembaga tersebut ke BRIN.

“Kami meminta Bapak Presiden untuk mengembalikan lembaga yang dileburkan tersebut ke asal kelembagaannya dan menjadikan BRIN hanya sebagai koordinator riset di Indonesia. BRIN tidak perlu meleburkan berbagai lembaga riset yang ada.”, Mintanya.

Mereka justru sepakat dengan gagasan Presiden untuk membenahi, meningkatkan efektivitas dan efisiensi lembaga-lembaga penelitian di indonesia demi mendukung pembangunan nasional untuk mencapai visi Indonesia Emas.

Sekiranya Presiden berkenan, mereka dengan senang hati menyampaikan pemikiran dan ide-ide mengenai berbagai permasalahan sangat mendasar yang dihadapi oleh lembaga-lembaga riset dan memerlukan reformasi yang hanya bisa terlaksana bila didukung oleh kehendak politik (political will) Presiden.

“Dengan berbagai pertimbangan segenap pihak yang berkompeten mendesak Presiden Joko Widodo untuk mengkoreksi Perpres No. 78 tahun 2021 dan membentuk sebuah tim independen yang fokus untuk memberi rekomendasi terbaik bagi Riset Indonesia”, Harapnya. (rls/rr)

mataradar news

error: Content is protected !!