Home Ekonomi Mantap! Bahlil Tak Pedulikan Larangan Eropa soal Ekspor Nikel RI

Mantap! Bahlil Tak Pedulikan Larangan Eropa soal Ekspor Nikel RI

Views : 191
WhatsApp Image 2021-12-20 at 07.17.29

Bali – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia tak gentar soal gugatan Eropa terkait larangan ekspor bijih nikel Indonesia.

Menurutnya, Indonesia punya hak untuk mengatur kekayaan alamnya sendiri demi perekonomian negara dan kepentingan nasional.

“Untuk Nikel ke depan, bauxit atau timah kita gak akan lagi ekspor ke depan. Sekali Eropa hajar kita, ga ada urusan. Negara kita harus berdaulat,” kata Bahlil di Nusa Dua, Bali, Minggu (19/12) melalui Press Release yang diterima media ini.

Nikel merupakan salah satu bahan untuk membuat baterai berbagai peralatan, termasuk mobil listrik yang tengah menjadi tren dunia. Indonesia sendiri adalah salah satu penghasil nikel terbesar di dunia. Tidak heran jika nikel Indonesia banyak dilirik oleh pasar negara-negara lain.

“Kalau bicara tentang baterai mobil listrik, memang total cadangan ore dunia, di Indonesia ada 22-24 persen, kita terbesar di dunia.

Kualitas juga kita punya lebih bagus. Ketiga, jarak lokasi tambang ke pelabuhannya, lebih dekat kita dari pada Australia. Kita paling jauh 20-30 km, secara cost ekonomi lebih bagus,” papar Bahlil.

Bahan baku baterai mobil listrik terdiri dari empat komponen, yakni mangan, lithium, nikel dan kobalt. Bahlil menyampaikan, Indonesia punya mayoritas bahan baku tersebut, yakni mangan, nikel dan kobalt. 

“Jadi 85 persen bahan baku baterai mobil listrik itu ada di negara kita. Makanya orang semua sedang obok-obok kita untuk kita ekspor barang ini. Kita nggak mau,” tegas Bahlil. 

Indonesia saat ini tengah fokus dalam mengembangkan ekosistem mobil listrik. Salah satu langkah awalnya adalah dengan membangun pabrik baterai mobil listrik.

Pengembangan ekosistem mobil listrik tentu tak bisa sendirian. Maka dari itu pemerintah berupaya mengajak investor untuk ikut mengembangkan ekosistem tersebut.

Untuk itu, Bahlil telah menyiapkan berbagai strategi untuk menggaet investasi baterai mobil listrik ke Indonesia. Selain promosi dan memberikan kemudahan perizinan, pemerintah juga akan mengakuisisi perusahaan mobil listrik. 

“BUMN kan punya IBC (Indonesia Battery Corporation), perusahaan untuk handle (urus) ekosistem baterai mobil dan mobil. Itu ada rencana mau akuisisi saham pabrik mobil di Jerman. Cuma dua kan caranya, kalau nggak bisa bangun, ya kita akuisisi,” ujar mantan Ketua Umum HIPMI ini. (rls/rr)

mataradar news

error: Content is protected !!